Kamis, 17 Juni 2010

tanpa judul # 30

Diantara wajah itu ku melihat kau tengah mengumpulkan titik-titik suara dan warna
diantaranya kau bersikukuh untuk dapat melihat dengan mata yang kau bawa di balik kantung celanamu
diantara mereka aku menyaksikan kau yang mengecil terhimpit dunia sekitarmu yang selalu terlihat abu-abu,apa kau tak apa-apa?

Indah sesungguhnya kau yang ada di balik wajah-wajah itu,bersinar walau redup penuhi celah dunia buram mereka
itu yang dapat aku lihat dari mu yang bergulat bertarung keluar dari dunia wajah suram itu yang telah mengurungmu hingga tak kau berwarna selain itu
itu salah satu yang dapat ku nikmati darimu yang tengah ku pandangi dengan butaku akan kamu disana,apa boleh aku menjemputmu dari bising itu?

Merana aku tau kau disana, terhunus berkarat termakan asam pekat sang kehidupan membeku lakonmu itu, tumpul aku tau kau yang ada di dunia sana, rapuh tanpa tempat bernaung seperti ani-ani yang lain, kotor aku tau kau yang berada lama dalam dunianya, terkubur debu pasir yang memaksamu untuk tetap tampil seperti kerak dari semesta alam mereka,apa ijinmu berlaku padaku yang ingin meraih putih mu dalam cemarmu itu?

Emosi, kau penuh emosi, emosi dari erosi yang ada di setiap sudut pandanganmu yang teramat pekat dengan laku wajahnya yang kikuk melihat raga selain dari jenis mereka
itu yang ku lihat di sekelilingmu saat ini dan nanti,apa aku tak cukup berharga untuk mewarnai dunia mereka dan kamu?

Namun tak perlu ku dapat jawabanmu atau mereka sekarang, yang ingin aku lakukan saat ini hanya memandangmu di kejauhan, aku ingin tau lebih tentang kau yang hidup dalam dimensi tak bertuan itu, agar bisa ku pahami peranku saat nanti aku bergabung dalam drama di dunia mu dan mereka

Sungguh hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini, demi menjemput airmatamu itu, aku beralih menjauh untuk maju melaju diantara jalan kecil yang tersedia untuk ku masuki, jalan dalam hati perihmu yang terlampau kecil dan sempit itu, tanpa sepengetahuan mereka yang berwajah abu-abu itu

Itulah yang akan aku lakukan untuk mu yang terjebak murung dalam buram debu ketiadaan dimensi kelabumu itu, itulah aku yang sering menunggu untuk mendapatkanmu dan hati dari duniamu yang di penuhi wajah resah itu, itulah jika ku dapat menjangkaumu

0 komentar:

Posting Komentar

Lukisan Hati Pembaca